Bincang-bincang September

Kalau disuruh pilih tiga bulan favorit di tahun 2018, bulan September akan aku masukkan sebagai salah satu pilihanku! Di bulan ini cukup banyak aku menghabiskan waktu bareng sahabat-sahabatku dan orang-orang baru yang aku temui di beberapa workshop.  Setelah di dua bulan sebelumnya aku lebih banyak fokus sama diriku, dan urusan-urasan yang harus segera diselesaikan, bulan ini aku ngerasa kalau terlibat di kegiatan-kegiatan seru dan ketemu sama temen-temen lama ternyata bisa dapet ‘kiriman’ energi baik untukku dan hari-hariku setelahnya.

Salah satu pertemuan yang paling ngena di aku adalah pas aku ketemuan dan ngobrol-ngobrol banyak sama teman lamaku yang dulu satu fakultas tapi kita beda jurusan kuliah. Semasa kuliah tahun pertama dan kedua kita sering ngurusin acara fakultas dan nginep bareng di rumahnya. Tapi semenjak tahun ketiga kuliah, peluang untuk ketemu semakin kecil karena ia harus ambil kelas di Curtin University dan setelah lulus ia memilih untuk hidup dan cari pengalaman kerja di beberapa negara. Jadi ada masanya kita gak ketemu dan gak ada kabar selama kurang lebih tiga tahun..haha. Aku sama dia orang yang sama-sama cuek dan ekstrim banget kalo udah ilang!

Tapi cara kerja semesta emang aneh sih…kayaknya yah mau sejauh apapun kita ‘pisah’ sama orang kalo emang energi dan frekuensinya nyambung ya bakal ada aja jalan untuk bersinggungan lagi. Nah, aku sama dia gitu tuh.

Tahun 2017 adalah tahun pertama kita ketemu….setelah 3 tahun hidup di benua yang berbeda.  Ia baru balik dari New York dan lagi adaptasi sama dunia kerja Jakarta. Di pertemuan pertama (dan terakhir untuk tahun 2017) setelah sama-sama ilang, kita banyak banget numpahin cerita masing-masing. Ia cerita banyak tentang kegeramannya terhadap dengan Trump setelah Ia terpilih jadi presiden AS, perlakuan terhadap kaum minoritas di AS yang ia sering saksikan sehari-hari,  kekesalannya sama orang-orang terdekatnya yang intoleran dengan isu LGBT, hingga cerita tentang keluarganya. Aku bisa banget sih ngerasain cerita-cerita itu dengan emosi marah dan bingung tapi gatau juga harus marahin siapa secara langsung (???). Aku yang dengerin juga ikutan emosi sih dan cuma bisa manggut-manggut aja sambil sesekali menjawab apa yang bisa aku jawab kalo ia nanya.

Singkat cerita, tahun ini di bulan September akhirnya aku janjian ketemu sama dia lagi. Senangggg karena bisa sama-sama gak omdo dan nepatin janji ketemu tepat waktu! Pertemuan selama tiga jam itu diisi dengan update hidupku–yang seperti biasa penuh drama kayak serial Black Mirror haha! dan cerita-cerita dia yang selalu bisa kasih aku banyak banget perspektif dan ilmu baru.

Kita banyak ngobrol gimana selama setahun belakangan ini banyak hal yang berubah dari diri kita. Mungkin cerita-cerita yang berputar di sekeliling kita tetap sama, tapi yang berubah adalah cara kita menyikapi dan menilai cerita tersebut. Cerita tentang orang tua kita yang khawatir kalau kita kerja/berpergian terlalu jauh, masih ada cerita tentang si A menjadi gay pasca lulus kuliah, masih ada cerita tentang orang-orang yang menikah terus ninggalin kariernya, masih ada cerita tentang si B yang memilih jalur hidup baru padahal dari dulu semenjak kita berteman kita ngeliatnya dia orang yang ‘aman-aman’ aja.

Rangkaian peristiwa itu akan dan selalu ada..cuma waktu dan ruang kejadiannya aja yang berbeda. Terus, temanku juga cerita gimana sebenernya tahun-tahun lalu adalah masa-masa ia ngerasa sangat arogan dan banyak bertanya kenapa orang-orang kok bisa bersikap ignorance terhadap banyak banyak peristiwa yang menindas individu atau kelompok dengan merasa kalau mereka wajar untuk dikucilkan.

Topik ini yang akhirnya jadi diskusi reflektif kita berdua. Temanku cerita gimana dari tahun 2017-2018 ia lebih banyak baca tentang gimana cara kerja otak dan berpikir manusia, mengunjungi tempat-tempat baru sendirian, dan lebih belajar terbuka dengan orang-orang yang dulu dia anggap intoleran.

” Selama ini yah Han gue ngerasa selalu memandang rendah orang-orang yang gak bisa ramah terhadap isu minoritas kayak LGBT, perempuan harusnya gaboleh berkarier terlalu tinggi, nikah terlalu cepet, dll”

“Ternyata gue ngeliat mereka dari ‘bubble’ yang gue bangun sendiri tanpa belajar ngeliat kalo mereka juga living in their own bubble. Semua orang kan gak hidup dari previlege  yang sama; bisa nentuin mau kuliah dimana, punya akses untuk beli dan baca buku yang kita mau, dan pergaulan mana yang mau kita ikutin.”

Dengan melihat banyak peristiwa baik yang terjadi di ruang-ruang domestik maupun publik dari kacamata ‘gelembung’ tadi, Ia jadi lebih ‘mindful’ dan punya rasa empati kalo mau menilai dan menghakimi orang-orang. Ia amati dan cross-check dulu kenapa si A bisa bersikap kayak gitu, kenapa sepupunya di Surabaya bisa antipati banget sama perempuan lesbian padahal tingkat pendidikannya sampai perguruan tinggi, kenapa nenek dari ayahnya lebih terbuka terhadap pilihan anak perempuan untuk berpergian jauh sedangkan ibunya lebih memilih agar temanku hidup di ‘zona aman’ aja.

Sepulang dari pertemuan itu aku langsung terenyuh gitu dan pelan-pelan mau lebih sadar dan belajar lagi untuk mengambil jeda sebelum menilai banyak kejadian. Semoga ke depannya kalo aku pengen marah atau kesel atau kepikiran nilai orang dengan nada semacam “aneh banget sih nih orang masih aja pikirannya kolot”, aku langsung inget pernah ada perbincangan tentang gelembung ini.

Thank you, and may you be well and happy, Fah!

 

 

 

Advertisements

Protected: Tebet 56

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Dear Hanna,

dear hanna,

i know that fear has ruled your life for a very long time, so long that your natural response to things that make you feel… well, anything really, is to run for the woods, duck and hide or refuse to acknowledge the thing because even your own feelings are scary to you. we’ve talked a bit about your fears over the past days and established that amongst other things you are afraid of not being good enough, being abandoned, not being able to have and keep relationships with people you care about, rejection in all forms and sizes, and you’re terrified of never being truly okay. you’ve lived with an internal threat level that has been set to critical for as long as you can remember and i’m so sorry that you’ve been unable to find security within yourself. that really sucks.

you know what’s great though? that you’re going to change that by choosing to see things differently and then continuing to do so every day. you’re going to be willing to choose love over fear, hwung over hweng, you’ve actually already started, and you’re going to be okay. i know that with complete certainty. i also know that you’ve been doing the best you can up until now, and that you’re doing an awesome job at this very moment. heyyy look at you writing loving things to yourself, han! just a couple of months ago you wouldn’t have been able to do this, it would have been way too painful and overwhelming rite?

listen han, you’re capable of some incredible things. you’re going to remove the filters of fear through which you’ve seen the world up until this point and you’re going to grow so much from it. you’re growing right now! i know you’ve noticed changes in your thinking and that’s all because of you, that’s all because of you, han.

i’m not angry with you for your fears. they are what they are at this moment and i forgive them. they will lose their grip over time if you keep showing up for yourself. i’m so proud of you<3!!!

Be, Here, Now. Be, Here, Now. Be, Here, Now.

At least once in our life, we ask ourselves the big questions, one of those like “What is the purpose of life?” or “Why am I here on earth?” They are good questions, ones that may help us orient our life and move closer to the center of our being. Sacred scriptures and words from the Wise have pointed to the answers on numerous occasions and often rather explicitly. Yet we keep asking the questions and demanding answers. We need our personalized answers. We yearn to experience the answers. The questions are so alluring and appealing that sometimes we go too far with them. We can have a romanticized vision of what we may become and our role in the society.

“I am born to be such and such.”
“I will be doing this and that.”
“I shall become so and so.”

That may be true. I do not refute the potential at all. Observe, however, from where the answers spur. Notice as well that they tend to have future tense.The questions are questions for the soul. Yet we look solely to our mind for the answers. The questions require inner clarity. Yet we prematurely come up with plausible answers from our muddled interior.

We get too involved with what we will be in the future that we forget our present. We do what we do now, so that we can become what we imagine we will become then. The present is but a means to an end, which is the future. The present loses its values. We lose our precious opportunity to know, right here and now. We do this more often than we think in our everyday life. We make the present a means to an end.

When we want to go from our house to our office, all we can think about is arriving at the office. We do not pay due attention to what happens during our travel, except probably when someone rudely cuts us off on the road. Then we jump into another state of consciousness, or rather, unconsciousness – but this is another subject altogether. Or when we are about to enter a cafe to meet our friends. All we can think about is that moment in the not-so-distant future when we see and sit with them. Do we notice at all the waiter who opens the door for us, or the fact that the door is opening for us? Do we notice the wooden floor that we step on along the way? Unlikely.

So, the invitation of this writing is to cut all these complexities of future maybes and return to the simplicity of being here and now.

Let’s visit those three words: be, here, now. These words in themselves are signposts that direct us to what they are pointing to. We speak of them often but rarely we allow ourselves to feel the sensation when we utter the words. Why not give it a try? Say the words at a slower pace, not too loud, pause after each word, and feel the interior sensation as we hear the words echoing within our being. Be. Here. Now. Try it several times. They peel off irrelevant things, usher us towards a place deep in the center of our being, and ground us to earth. Be. Here. Now.

Suddenly the universe becomes quieter and simultaneously more vivid. Some of us may become more aware of our breath, or the tingling sensation on our fingers, or the sound of water flowing in the gutter, or the leaves swaying as the wind blows. Memories come up, bringing colorful emotions and more memories along. Thoughts of the future, too, pay us a visit, and with them come hope, fear, excitement, and anxiety. Again we return to our words: be, here, now. Thoughts and sensations come and, eventually, they will fade. All are parts of human experience.

This is a form of mindfulness practice. One may have different forms of practice and call it by some other names, such as meditation, remembrance (zikr), and eling. Whichever practice we may adopt, what is essential here is to be aware of what we are doing, moment by moment. That is, as much as humanly possible, we recognize what is going on within and outside of us – and be fully honest with it without pushing anything away or wanting something to stay. Let them be.

This takes constant practice. Chances are, we spend most of our life doing otherwise. We are either in the past or the future. We are either putting too much emphasis on our interior or on something or someone outside of ourselves. We either dislike something so much that we want to get rid of it, or hold on to something (or someone) too dear to us. We use euphemism to sugarcoat how we really feel and unreasonable reasons to justify our actions. Again, these are parts of human experience. What is on offer here is an alternative way of being. One that feels simpler, more direct, and more honest. It may feel a bit too simplistic or foreign to some. But if it touches something or even tickles slight curiosity within us, perhaps it is worth trying, just to see where it can take us in our life journey and our innate inclination to know our self.

Now, to return to the questions posed at the beginning of this writing. What about knowing our purpose of life? By all means, do keep that burning question alive if it is still there. At the same time, please be fully involved in life, here and now. No cheating. No interfering. No hurrying. No holding back either. Let us not sacrifice the present for the sake of the future. Who knows, perhaps it is the present that shall carry our perplexity through and allow us to arrive at the knowing. I will leave you with a line posted by another friend on social media that stays with me: “Life purpose is about to be uncovered and it’s simpler than you may think.”

Enjoy the day!

 

Ajakan dan Nilai Kebaikan

Kemarin malam seorang kawan menelpon saya dengan suara isak tangis dan nada putus-putus. Sudah cukup lama saya tidak bercakap dengannya, baik melalui pertemuan tatap muka atau berkirim pesan melalui WhatsApp. Saya kaget, tapi cukup bisa menerka apa yang sedang dirisaukannya. Terkaan saya ada dua, yakni kalau tidak tentang si mantan ya berarti tentang orang tua. Ternyata terkaan kedua yang mengantarkannya menelpon saya pukul 11 malam itu.

Selama 10 menit kawan saya belum juga bisa bicara. Saya menunggu sambil memandunya untuk mengatur napas dan mengajaknya bernapas pelan dalam hitungan 10 lambat-lambat.  Tak lama dari itu, Ia akhirnya mencoba berbicara. Masih dengan suara isak tangis, namun sudah lebih bisa bernapas teratur, akhirnya obrolan kami pun dimulai.

Ternyata ini perihal kemarahannya dengan sang Ibu. Kawan saya menumpahkan amarah dan kesal terhadap ibunya yang dinilai selalu memaksanya untuk mendalami kajian agama di usia muda. Sebuah permintaan yang jarang dibalas dengan anggukan patuh untuk segera ‘mengamalkannya’.Menurut penuturannya, si Ibu hampir tidak pernah absen berperan sebagai komandan ibadah. Mulai dari ajakan untuk salat berjamaah ketika ia sedang di rumah hingga anjuran agar menghafal ayat Al-Quran dan menutup aurat dengan pakaian longgar. Nadanya semakin tidak terkontrol ketika Ia menceritakan peristiwa yang terjadi di hari itu antara keduanya. Di malam itu selepas ia pulang kerja, si Ibu menyuruhnya salat isya dan setelahnya salat Ia diminta untuk menghafal surat pendek melalui juz amma.

Kawan saya ini bukan tipe orang yang percaya pada ritus agama yang terlalu ribet. Setidaknya itulah kata yang sering ia pakai dalam mendeskripsikan pandangannya terhadap agama. Menurutnya beragama cukup dengan percaya pada Tuhan melalui doa. Meskipun kerap kali Ia juga suka merasa bersalah kalau meninggalkan ritus harian ibadah seperti salat dalam jangka waktu yang lama. Ia pernah bilang , “Kalo gw lagi kepengen banget sesuatu atau ragu akan pilihan gw atau hopeless karena suatu hal ya ujung-ujungnya gue balik solat sih, Han.”

Balik lagi ke peristiwa yang membuat kawan saya ‘mengamuk’ via telfon, ternyata setelah Ia menolak untuk membuka juz amma, si Ibu dengan nada tinggi sambil setengah menangis berteriak kepada kawan saya karena Ia takut si anak akan menyalahkan ibunya ketika Hari Akhir tiba. Si Ibu takut kalau ia berdosa karena membiarkan anaknya lepas dari ajaran-ajaran agama. Untuk pertama kalinya, kawan saya membalas si Ibu dengan pekikan yang tinggi, memintanya untuk diam , dan berhenti mendesaknya untuk mendalami (ritual) agama. Keduanya menangis dan masuk ke kamar masing-masing sambil membanting pintu.

Menyimak ceritanya membuat saya merenung tentang ajakan berbuat baik dari orang tua kepada anak dan bagaimana komunikasi antara keduanya. Cerita kawan saya ini bukan cerita pertama yang pernah saya dengar. Nampaknya, ajakan beribadah menjadi tema yang sering muncul dalam gesekan hubungan antara orang tua dan anak. Saya pernah berbincang dengan Ibu kawan saya yang lain tentang alasan beberapa orang tua begitu semangat menyuruh anaknya beribadah. Kurang lebih alasan yang diutarakannya karena ingin si anak hidup bahagia di dunia dan akhirat serta bisa bernaung di surga yang sama. Ibu teman saya  menjawab dengan nada santai sembari merenungi kata-kata yang diucapkannya.

Sementara kalau saya dengar cerita dari kawan-kawan saya yang lain, ajakan beribadah kerap kali dianggap sebagai paksaan dan bukan pilihan bebas. Saya jadi ingat kawan SMA saya pernah bilang kalau suatu hari nanti ia menjadi orang tua ia akan menyimpan norma-norma yang dianggap benar hanya untuk dirinya sendiri dan berupaya menahan ego agar tidak menularkan dengan paksa kepada anaknya. Kemudian kita diam sejenak dan bertanya lagi, ‘”Hahaha…tapi emang bisa?” Dan kemudian saya menjawab, “Hahaha gak tau. Tapi yang jelas karena kita udah pernah tau nggak enaknya kalo ibadah dipaksa-paksa, semoga kita belajar untuk nyampeinnya dengan obrolan santai, adem dan pake humor.”

Kilas Balik Sekolah Kita Rumpin 2017

Terlepas dari banyaknya peristiwa sliweran di tahun 2017 yang bikin aku morat-marit, ada satu tempat yang jadi pengingat aku untuk terus kuat hati dan jangan ragu untuk melangkah dengan sabar dan sukacita, yaitu Sekolah Kita Rumpin. Tahun kemarin adalah tahun kelima aku belajar di SKR. Di tahun kelima ini ada banyak perubahan tak terduga yang datang dari beberapa kakak dan adik. Dari mulai menghadapi jumlah kehadiran adik yang berkurang di pertengahan tahun, beberapa kali dimarahin Bu Neneng karena nggak ada kakak yang dateng (padahal lagi banyak adik yang dateng), kehilangan beberapa adik unggulan karena lebih milih belajar motor supaya bisa nongkrong di lapangan AURI, dan  hal-hal lain yang bikin kakak-kakak kelimpungan.

Tapi dari banyaknya tragedi yang suka bikin kakak-kakak pesimis, ada beberapa capaian yang layak disyukuri dan diapresiasi. Supaya aku makin semangat kalau lagi kendor dan numbuhin lagi rasa percayaku kalau akan banyak peristiwa baik di tahun ini untuk SKR, jadinya aku akan tulis apa aja pencapaian sederhana tapi bermakna (haha) di tahun kemarin:

  1. Tur Kita

Tur Kita adalah kegiatan rutin tiap tahun yang memberi kesempatan kepada adik-adik untuk belajar di luar wilayah Rumpin. Tahun kemarin kami memilih 21 adik kelas besar untuk ikut dalam kegiatan ini. Sesuai dengan tema ajar saat itu yakni Pluralisme, kami memutuskan mengajak adik-adik mengunjungi tiga tempat ibadah di Jakarta, yakni Pura Agung, Gereja Katedral, dan Masjid Istiqlal. Ada cerita unik sebelum tur ini berlangsung.

Jadi, tur ke rumah-rumah ibadah hampir aja batal karena ada beberapa orang tua yang keberatan jika tur dilaksanakan di sana. Alasannya mereka takut kalau nanti adik-adik belajar agama-agama lain (?). Kita paham kalo ketakutan ini datang karena memang mayoritas penduduk Rumpin beragama Islam dan mereka nggak familiar dengan kultur atau kebiasaan beragama di luar Islam.  Mereka mengusulkan agar adik-adik mengunjungi beberapa museum di Jakarta. Namun semua adik lebih memilih kunjungan ke rumah-rumah ibadah, karena tahun 2016 kami udah pernah berkunjung ke beberapa museum di Jakarta.

Singkat cerita, seminggu sebelum Tur Kita, kami berdiskusi dengan beberapa adik SMP. Ada satu adik SMP namanya Yaya yang siap jadi ketua panitia mewakili adik-adik. Tanpa ragu, Yaya ngusulin supaya surat-surat perizinan untuk orang tua disampaikan langsung oleh Yaya. Aku bilang ke Yaya kalau aku percaya sama dia karena dia yang lebih tau kondisi orang tua di sana, jadi aku cuma bekalin surat yang udah aku fotokopi dan nomor telfon aku kalau mereka mau tanya-tanya lebih lanjut tentang tur ini. Pas kelas udah selesai, aku, Yaya sama Bu Neneng ngumpul dulu di rumah Bu Neneng untuk “latihan” ngomong di depan orang tua. Rasanya haru banget pas liat Yaya pura-pura ngomong ke aku seakan-akan aku orang tua si adik (latihan dengan bahasa sunda yang banyak “teh-tehnya” sama, “ieu-ieu” haha). Aku inget banget dua atau tiga tahun lalu, Yaya anaknya pendiam banget dan suka nangis kalo ‘digalakin’ dikit baik sama kakak yang ngajar atau teman sekelasnya :””). Akhirnya Yaya berkeliling Kampung Malahpar dan Cibitung untuk bicara dengan para orang tua adik dan akan memberi kabar kepada kami hasil dari kunjungan tersebut. Malamnya,  aku dapat laporan dari Yaya kalau dia udah main ke rumah para orang tua adik dan berhasil mengoordinasi 21 adik untuk ikut Tur Kita! Makasih yah, Yaya!

SONY DSC

SONY DSC

 

SONY DSC

Yaya yang mengenakan kerudung hitam

  1. Pertemuan dengan orang tua adik

Sekitar bulan Agustus – Oktober jumlah kehadiran adik-adik menurun di tiap kelas kecil maupun kelas besar. Keadaan ini membuat kami sedih dan bingung, dan sedikit banyak mempengaruhi semangat beberapa kakak. Akhirnya, aku dan kakak-kakak kurikulum ngobrol sama Bu Neneng. Beliau mengusulkan agar kita ngadain pertemuan kecil-kecilan dengan para orang tua adik. Kami menyebar sekitar 35 undangan untuk para orang tua di Malahpar dan Cibitung. Pertemuannya diadakan di musala Cibitung. Aku sebenernya agak ragu awalnya..duh pada dateng gak yah…ini pertemuan perdana setelah empat tahun gapernah ngumpulin orang tua dengan jumlah seabreg kayak gitu. Pas hari H aku telat dateng…terus Iik sms aku nyuruh aku cepet dateng karena rame banget yang dateng. Aku tanya Iik berapa orang yang dateng, kata iik 20an ibu-ibu yang dateng.  Kaget dong aku di jalan, karena aku kira cuma 10-15 orang aja gitu yang dateng.

Setibanya aku di musola, Bu Neneng udah nyiapin makanan berat kayak nasi dan lauk-pauk dan ibu-ibu udah duduk melingkar gitu. Ternyata kata Iik Bu Neneng udah ngobrol puanjangg lebar dengan ibu-ibu sebelum aku dateng. Terus Bu Neneng ngenalin aku pake bahasa sunda yang untungnya aku ngerti si ibu ngomong apa. Giliran aku ngomong..aku deg-degan pisan……kayak apa yah…gila gatau mo ngomong apa. Perasaan takut sotoy, perasaan terharu sambil ngos-ngosan (karena telat tadi), terus pas ngomong sambil mikirin kayak “ini aku ngomongnya “ketinggiaan” gak yah”, dan perasaan-perasaan lain yang susah aku jelasin. Aku dibantu Bu Neneng jelasin apa aja program yang ada di SKR, dari mulai kelas umum, kelas khusus, tur kita, hingga skema beasiswa untuk para adik. Aku berkali-kali curhat kalo aku sedih adik-adik sedikit yang dateng dan aku minta tolong sama ibu-ibu untuk bantu kami mendorong adik-adik agar semangat lagi ke SKR. Aku atas nama kakak-kakak juga minta maaf ke mereka kalau salah satu penyebab adik-adik ga dateng juga pasti salah satunya karena beberapa kali kakak-kakak suka dateng telat dan bahkan absen mengajar.

Nah yang menarik dari pertemuan ini adalah aku bisa ngobrol dengan beberapa ibu justru pas pertemuannya udah selesai, pas ibu-ibu udah gak di musolah lagi. Sambil aku nyatet nama-nama yang hadir sambil sekalian nanyain langsung kabar mereka. Mereka belum pada pulang karena nunggu adik-adik kelar kelas. Di sekitaran pendopo musola banyak ibu yang nyamperin aku sambil cerita langsung tentang anaknya. Itu kali pertama aku tau secara langsung latar belakang dan kehidupan keseharian beberapa adik SKR. Aku jadi tau kalo Pita juara 1 di kelasnya pas semester lalu,  aku baru tau kalo ternyata Andri dan Siti itu sodara kandung, aku jadi tau kalo Nopa yang baru umur 8 tahun udah punya adek 4, aku jadi tau kalo alesan Milah suka ga dateng ke SKR karena emang harus nyuci baju atau bantuin ibunya nyuci baju-baju punya tetangga.

Meskipun mayoritas yang datang adalah para ibu (hanya satu bapak yang dateng waktu itu yakni bapaknya Siti) pertemuan ini jadi awalan yang baik untuk memulai silaturahmi dengan keluarga adik-adik. Dari pertemuan itu kami menyepakati kalau kita mau bikin pertemuan kayak gini secara berkala, 2-3 kali dalam setahun. Semoga tidak jadi wacana dan makin banyak orang tua yang berpartisipasi dalam proses belajar adik-adik.

  1. Semangat Kakak-Kakak

Sekolah kami nggak akan bertahan kalo nggak ada kakak-kakak yang masih semangat dateng di hari Minggu. Aku yang nggak bisa secara konsisten datang dua minggu sekali ke SKR, merasa terbantu sekali dengan kakak-kakak yang semangatnya gak nanggung-nanggung.  Rasa terima kasihku paling besar di tahun ini aku tujukan untuk Kanya, pengajar paling muda di SKR. Aku rasa gak hanya aku yang sepakat kalau Kanya punya peran besar untuk SKR di tahun ini. Di umurnya yang masih muda banyak ide baik dan tepat guna untuk diterapkan di SKR. Selain itu, persistensi Kanya untuk datang hampir setiap minggu ke SKR untuk mengajar bahasa inggris sebagai persiapan Ujian Nasional adik-adik SMP adalah hal yang bikin kita makin kagum. Sari, salah satu murid yang diajar Kanya, awalnya suka ngeluh ke aku kalau Kanya galak dan ngajarnya suka bikin nakutin, tapi lama-kelamaan dia jatuh hati dengan pelajaran bahasa inggris. Semester kemarin Sari mendapat nilai terbesar ke-2 di kelasnya dalam pelajaran bahasa inggris. Terima kasih, Kanya!

IMG_20180122_135204

Dua minggu lalu kakak-kakak tim inti melakukan evaluasi Tahun 2017 dan kita berkesimpulan kalau kita butuh lebih banyak ‘Kanya’ untuk sekolah ini. Akan ada beberapa perubahan untuk SKR di tahun 2018 dan banyak mimpi-mimpi baru yang siap untuk kami wujudkan bereng adik-adik. Duh, semoga semangat adik-adik yang selalu dateng satu jam lebih awal sebelum kakak-kakaknya datang, sms adik-adik ke beberapa kakak yang bilang kangen tiap kali kita ga dateng, dan tatapan mata adik-adik yang serius dan penasaran tiap kali menyambut materi baru yang seru, menjadi pengingat dan renungan untuk kakak-kakak. Jadi keinget kata-kata pas Kemah Kita tiga tahun lalu kalau kita udah mulai egois dan malas untuk ngajar, “Remember, remember, remember the people you serve.”